Laman

Sabtu, 06 Oktober 2012

Makna tembang sluku - sluku bathok

Makna tembang sluku - sluku bathok
Javanese & Arabic: between ancient philosophy
Sluku-sluku bathok

Sluku-sluku bathok
bathoke ela-elo
si romo menyang solo
oleh-olehe payung montha
tak jenthit lolobah
wong mati ora obah
yen obah medeni bocah
yen urip nggoleko dhuwit
Inilah salah satu lagu atau

1. Sluku-sluku bathok, bathoke ela-elo
Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah Berjalan jalankan batinmu, batinmu kepada Tuhan. Ada juga yang memaknai Ghuslu-ghuslu batnaka, bathnaka ila Allah Mandi sucikan jiwamu menuju kepada Allah dari segala kesibukan hati selain mengingat-Nya, dari segala penyakit hati yang meranggaskan setiap kebaikan manusia.

2. Si Rama menyang Solo
Sharimi Yasluka artinya Petik dan ambillah satu jalan, dalam versi lain berasal dari kataSiru ma’a man sholla, Berjalan bersama orang-orang yang menegakkan sholat yaitu orang yang tidak bosan-bosan berjuang di jalan Allah.
3. Oleh-olehe payung mutha
Laailaha illaallah hayun wal mauta maknanya kurang lebih demikian Esakan Allah dari hidup sampai mati. Ajakan untuk bertauhid dan berpegang teguh kepada agama Allah sampai akhir hayat. Istiqomah dengan kalimat Lailaha illaAllah



4. Mak jenthit lolobah
Mandzalik muqarabah, Siapa yang mendekat bertaqarrublah tanpa henti. Selalu mendekat kepada Allah dalam segala keadaan. Sabar saat diuji, syukur saat diberi nikmat.
5. Wong mati ora obah
Hayun wal mauta innalillah, Sungguh hidup dan mati hanyalah milik Allah. Dalam versi lain berasal dari kata Man mata ra’a dzunubah, orang nang mati akan melihat dosanya. Oleh karena itu siapkanlah kematianmu dengan terus berbuat baik kepada sesama dengan penuh cinta dan Taqwa kepada Allah SWT.
6. Yen obah medeni bocah
Mahabbatan mahrajuhu taubah, Maka, bercintalah dengan kecintaan menuju taubat. Selagi masih diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup di dunia ini. Jangan pernah putus asa dalam menggapai rahmat dan maghfirah-Nya.
 7. Yen urip goleka dhuwit
Yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq, Ingatlah sungguh manusia diciptakan dari air yang memancar. Maksudnya, manusia diciptakan dari ketiadaan dan kehinaan. Oleh karena itu untuk memperoleh kemulyaan harus dengan berjalan di jalan Allah.

Betapa wali songo mengerti kondisi masyarakat yang dulu masih kental dengan adat istiadat, seperti Nabi Muhammad yang berda’wah pada masa jahiliyah, tidak mungkin Nabi langsung berda’wah dengan berkata “Allah berfirman”. Sama halnya dengan Walisongo, cara da’wah mereka gak mungkin dengan berkata “Qoola ta’aalaa” atau berkata “Qoola Rasulullah”. Mana mungkin orang pada waktu itu bisa mengerti, sedangkan hal itu belum pernah terdengar dan sama sekali gak mengenalnya.

Maka sangat aneh sekali jaman sekarang yang sok islam, dengan mencibir tahlil, istighotsah, wirid, sebagai amalan orang non muslim dengan dalih hal itu tak ada di al-qur’an hadits, sungguh sempit pemikiran orang seperti ini. Dia sama sekali gak mengerti esensi al-qur’an dan hadits itu sendiri, tapi malah mengaku paling al-qur’an dan hadits. Na’udzubillah. Sebenarnya masih banyak istilah yang dipakai orang Jawa yang diambil dari bahasa arab yang dijadikan amalan-amalan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.


وافعلواالخيرلعلكم تفلحون
Waf’alul khoiro la’allakum tuflihuun
Perbuatlah kebaikan sehingga kalian beruntung (Q.S  Al-Hajj 77)
Mari kita perbuat banyak kebaikan, banyak jalan menuju ridlo Allah, Allah dan Nabi tak pernah membatasi perbuatan baik, selama tidak berntentangan dengan al-qur’an dan hadits, meskipun belum dicontohkan oleh nabi, tapi hal itu baik, maka hal itu adalah sunnah yang berpahala.

من سن في الاسلام سنة حسنة فله اجرها واجرمن عمل بها
Barang siapa yg merintis (memulai) dalam islam perkara yang baik, maka baginya pahala dan pahala orang-orang setelahnya yang melakukan perbuatan baik tersebut. HR. Muslim.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar